Nilai sakral Watu Pinawetengan tidak akan hilang didalam hati dan pikiran orang Minahasa di Minahasa dan diluar Minahasa,karena walaupun batu itu dipecahkan dan ditimbun seperti keadaannya sebelum tahun1888, dilokasi inilah lahir persatuan antara Subetnis TOU MINAHASA (orang Minahasa) sebuahkata yang berarti "Mina" (menjadi) "Esa" (satu) yang terbentuk melalui proses waktu yang panjang selama berabad-abad, bahkan kemudian masih terus dikukuhkan lagi pada abad ke-14, karena Sub-etnis Minahasa yang sudah semakin banyak JKumlahnya dengan tambahan Sub-etnis minoritas.
Arti Gambar dan garis-garis di Watu Pinawetengan bukan huruf , tapi gambaran mengenai manusia pertama Minahasa dengan perobahannya, Wilayah pemukiman dan bentuk perkampungan, kelas lapisan masyarakat, sistem pemerintahan yang tidak berpusat pada lokasi tertentu, mata pencaharian berburu sampai bercocok tanam, dan sebagainya.
Tiga gambar manusia ( KAREMA, LUMIMUUT, dan TOAR (waktu masih bayi) terdapat dipermukaan atas batu
Sembilan batang lidi dari ijuk pohon enau, menunjukkan jumlah bayi burng manguni, untuk mensahkan sebuah keputusan oleh dewa MUNTU-UNTU

Jerat
penangkap babi hutan atau babi rusa, bulatan dengan dua titik adalah
gambar hidung babi dengan dua lobang hidung. Dua garis patah sebelah
kiri dan kanan adalah pagar penghalang yang semakin menyempit, dimana
hewan liar dihalau dan diusir ke arah masuk perangkap.

Musim menangkap babi hutan dan babi rusa

KAREMA
sebagai dewi binatang (karema = binatang-binatang) dalam bentuk sebuah
meteor berekor panjang.Banyak meteor yang melewati bumi, diantaranyayang
paling terang cahayanya adalah komet Helley. Memberi tanda akan ada
kejadian besar yang akan terjadi.

Gambar
untuk wanita sebagai dewi kesuburan yang merupakan tahap kelanjutan
dari dewi bumi (Lumimuut) yang mungkin dewi padi "Lingkan Wene"
Disebelahnya simbol dewi padiberbentuk gambar padi yang memiliki dua
mata.

Ikan Pari ( Nyoa )menandakan musim menanam

Memasang Perangkap babi hutan

Tiga
gambar manusia ini terdapat di sebelah barat batu bagian bawah, Dewi
Karema, Dewi Lumimuut, dan Dewa Toar. Memakai jubah atau penutup badan
dari daun-daunan, karena 1000 tahun sebelummasehi masa Glasial belum
berahir dan cuaca lebih dingin dari sekarang ini.

Gambar ini berarti Pintu Masuk lokasi tempat pemukiman

Satu-satunya
gambar manusia yang dilihat dari samping nampaknya gambar wanita.
Karena berambut tebaldan tidak ada hubungan dengan bentuk padi, berarti
bukan dewiLingkan-wene abad ke-9. Kemungkinan besar adalah istri
MUNTU-UNTU KUMOKOMBA pada abad ke-7 yang bernama RINUNTUNAN. Di Kukuhkan
melalui gambar watu Pinawetengan sebagai Dewi Kesuburan, kepala
golongan agama suku diseluruh Sulawesi Utara, karena pada abad ke-7
Mangondouw dan Sangihe Talaud belum bernama seperti itu, dan masih
termasuk Minahasa.

Gambar
dua manusia TOAR (kiri) dan LUMIMUUT (kanan) betuk manusia disebelah
baratbatu bagian samping, sangat mirip dengan bentuk gambar manusia yang
ada di Goa alam ANGANO Philipina Selatan yang berasal dari masa 3000
tahun lalu.

Lokasi Rumah Tonaas Wangko dewa MUNTU-UNTU, terlihat seperti atap dari arah depan

Tiga
gambar diatas adalah yang paling atas, gambar ikan yang menunjukkan
musim tertentu atau pembahagian wilayah penangkapan ikan di sungai danau
dan laut,
Sedangkan yang ditengah adalah gambar ekor lipan atau "kaki saribu"
disebut KAMA dan yang berbentuk penjepit adalah simbol dari KAREMA.
Simbol saat-saat menebang pohon membuka hutan adalah untuk dijadikan
tempat pertanian atau pemukiman.
Yang di bawah adalah Gambar kalung leher yang telah dikenalterbuat dari
kulit kerang air Tawar ditemukan di tepi danau "Wulilin" Tombatu berusia
3000 tahun lalu. Abad pertama kalung-kalung dari india telah sampai ke
Sulawesi Utara.
By: TOLOLIU MAHARIMBOUW
Tidak ada komentar:
Posting Komentar