Selasa, 02 Oktober 2012

Pekan EXPO GMIM (HUT ke 78)-KKR


























































Pnt. Magdalena Ruth Wullur,SPd (Penatua Remaja Rayon Manado/Wilayah Manado Selatan) bersama Pnt. Iwan Mahardika Frederik,SE (WAKIL KETUA KPRS)
sedang menuntun jalannya KKR Pekan EXPO GMIM,HUT ke 78

An American Crime, Kitty Pride yang teraniaya


Dilihat dari Judulnya sangat menggetarkan jiwa bukan hehehehe...sepintas mengingatkan saya mengenai filmnya Edward Norton di tahun 1998 yaitu American History X. Keduanya sama-sama membahas mengenai kekerasan di Amerika sana, yang satu mengenai rasis dan film ini An American crime sendiri kalau boleh dikatakan mengenai domestic violence terhadap seorang bocah yang berdasarkan kisah nyata di sekitar tahun 1960an. Tetapi keduanya sama-sama menggigit, baik itu ceritanya maupun para pemainnya.
Oke, kita tinggalkan dulu history x-nya dan kita akan membahas mengenai film si kitty pride [salah satu anggota x-men] ini yang boleh saya katakan jauh lebih menarik daripada di Juno.

   Kakak beradik Sylvia (Ellen Page) dan Jennifer (Hayley McFarland) dititipkan oleh kedua orangtuanya ke seorang single mother yang bermasalah dan beranak banyak, dengan membayar sejumlah uang tiap bulannya. Pada awalnya semua berjalan baik-baik saja, sampai suatu waktu anak-anak sang janda mulai bermasalah dengan pergaulannya dan akhirnya hamil. Sylvia yang mengetahui hal itu dan bermaksud baik malah kemudian menjadi orang yang disalahkan akan berbagai hal, yang kemudian dituduh sebagai penyebar fitnah maupun dituduh penganut pergaulan bebas sehingga mempengaruhi anak-anak sang janda. Sang janda sendiri, Gertrude Baniszewski yang diperankan dengan aduhai oleh Catherine Keener, sebenarnya orang yang bermasalah dengan kesulitan masalah ekonomi maupun kehidupan seksualnya yang suka berkencan dengan teman-teman anak-anaknya. Akhirnya berbagai macam siksaanpun tertuju kepada Sylvia untuk menutupi kebobrokan keluarganya.

   Film ini dibawakan dengan narasi oleh Sylvia, sang almarhumah. Walaupun dibawakan dengan gaya baca yang santai tetapi gambar yang disajikan membikin kita terenyuh dan seperti terbawa ke dalam cerita. Endingnya pun dibikin agak sedikit mengejutkan setelah kita dibawa ke pemikiran sebuah happy ending, ternyata berakhir dengan haru biru. Berdasarkan filmnya banyak yang dihukum atas peristiwa penyiksaan dan pembunuhan ini, sang Janda dan anak-anaknya, serta teman-teman lainnya yang ikut andil dalam pembunuhan tersebut.  
Film ini sebenarnya premier di tahun 2007 di Sundance film festival, tetapi dari berita yang didapat baru di premiere kan lagi di Mei tahun 2008 ini. Kalau menurut pendapat saya sih seharusnya ini menjadi salah satu film kuat yang patut diperhitungkan, Ellen Page dan Catherine Keener Bermain sangat baik, dan khusus bagi Ellen Page membikin saya makin pensaran dengan film-filmnya yang lain seperti smart people dan hard candy, dan berdasarkan apa yang saya baca katanya sih hard candy sangat menarik. Berbicara mengenai domestic violence pasti masih ingat kan dengan film dalam negeri Ari Hanggara, mungkin kurang lebih sama lah cuma dalm An American Crime yang terlibat banyak dan latar belakangnya juga berbeda, hehehehe hanya sebagai perbandingan aja bahwa kita juga punya film mengenai seperti ini.


Reinkarnasi, Anak Ini Pernah Hidup di Masa Lalu

Benarkah ada reinkarnasi?
  Dunia memang penuh misteri. Benar atau tidaknya, akan terus menjadi perdebatan.

Banyak cerita beredar tentang individu yang mengaku menjadi reinkarnasi dari seorang tokoh sebelum dia hidup. Seperti kisah berikut ini. Percaya atau tidak, kami kembalikan pada penilaian anda.

Atas : Tang Jiangshan & Bawah : Chen Mingdao











Ada seorang anak, bernama Tang Jiangshan yang lahir pada tahun 1976 di Dong Fang, Kecamatan Gan Cheng, propinsi Hai Nan, China

Sewaktu berumur 3 tahun, tiba-tiba ia mengatakan kepada kedua orangtuanya: “Saya bukan anak kalian. Pada kehidupan lampau nama saya adalah Chen Mingdao, ayah kehidupan lampauku bernama San Die. Rumah saya di Dan Zhou, dekat laut.” Omongan ini kalau didengar orang lain bagaikan omong kosong, perlu diketahui, Dan Zhou terletak di utara pulau Hai Nan, berjarak 160 km dari kota Dong Fang.

Selain itu, Tang Jiangshan mengatakan bahwasanya dirinya dibunuh dengan menggunakan golok dan tombak di dalam aksi kekerasan pada masa revolusi kebudayaan, konon di bagian pinggangnya masih terdapat bekas luka bacok peninggalan kehidupan masa lalu. Yang membuat orang merasa takjub ialah Tang Jiangshan mampu berbicara dialek Dan Zhou dengan sangat fasih. Orang Dan Zhou berbicara bahasa Jun, berbeda sekali dengan dialek Hok Kian yang digunakan oleh penduduk kota Dong Fang.

Bayangkan, seorang bocah baru berumur beberapa tahun (balita), bagaimana bisa?

Foto baris atas : Tan Jiangshan di kehidupan sekarang (pasca reinkarnasi)
Foto baris bawah : Chen Mingdao di kehidupan masa lampau (pra reinkarnasi)

Pada saat Tang Jiangshan berumur 6 tahun, ia mendesak orang tuanya agar membawanya mengunjungi kerabatnya pada kehidupan masa lampau. Keluarganya tidak mau, maka ia mogok makan, akirnya sang ayah menurutinya, dan mereka pun pergi menuju tempat yang dimaksud. Yaitu desa Huang Yu, kecamatan Xin Ying – kota Dan Zhou.

Tang Jiangshan langsung menuju ke hadapan pak tua Chen Zan Ying, menggunakan bahasa Dan Zhou dan memanggilnya “San Die”, mengatakan dirinya bernama Chen Mingdao, yang pada masa revolusi besar kebudayaan oleh karena bentrokan fisik sehingga dibinasakan orang. Sesudah meninggal terlahir kembali di kecamatan Gan Cheng – kota Dong Fang, kini datang mencari orang tua kehidupan masa lampaunya.

Mendengar penuturan itu, Chen Zan Ying sejenak tertegun tak tahu bagaimana harus bersikap. Kemudian si anak kecil menunjukkan kamar tidur kehidupan masa lampaunya, dan menghitung satu persatu benda-benda pada kehidupan lampaunya. Menyaksikan semuanya ini dengan kenyataan pada masa lalu sama sekali tidak meleset, pak tua Chen Zan Ying saking terharunya berpelukan menangis dengan Tang Jiangshan dan memastikan ia memang adalah kelahiran kembali anaknya yang bernama Chen Mingdao.

Tang Jiangshan juga telah mengenali kedua kakak perempuan dan kedua adik perempuannya serta para sobat kampung lainnya, bahkan termasuk teman wanita pada kehidupan masa lampaunya: Xie Shuxiang. Semua kejadian ini telah membuat takjub kerabat dan tetangga Chen Mingdao. Sejak saat itu, “Manusia aneh dari 2 masa kehidupan” ini, Tang Jiangshan, memiliki 2 rumah dan 2 pasang orang tua. Ia setiap tahun hilir mudik antara Dong Fang dan Dan Zhou. Si tua Chen Zan Ying beserta keluarga dan orang-orang desa menganggap Tang Jiangshan sebagai Chen Mingdao. Oleh karena Chen Zan Ying tidak memiliki putra lainnya, Tang Jiangshan berperan menjadi anaknya dan berbakti hingga tahun 1998 ketika Chen Zan Ying meninggal dunia.

Kisah ini sempat dimuat beberapa media lokal, termasuk Majalah Femina Dunia Timur. Para editor majalah tersebut pada awalnya juga tidak percaya akan hal tersebut, namun melalui pemeriksaan berulang kali dan pembuktian lapangan, mau tak mau mengakui kebenaran tentang kejadian tersebut.